Selasa, 08 Mei 2012

Sejarah Penulisan Hadist



PENDAHULUAN

            Pada abad pertama hijrah, yakni masa Rasulullah SAW., masa khulafaur Rasyidin dan sebagian besar masa bani umayyah, hingga akhir abad pertama hijrah, hadis-hadis diriwatkan secara berpindah-pindah dan disampaikan dari mulut ke mulut Masing-masing perawi pada waktu itu meriwayatkan hadis berdasarkan kekuatan hapalannya.
            Memang hapalan mereka terkenal kuat sehingga mampu mengeluarkan kembali hadis-hadis yang pernah direkam dalam ingatannya.kemudian Ide penghimpunan hadis Nabi secara tertulis untuk pertama kalinya dikemukakan oleh khalifah Umar bin Khattab ( 23/H/644 M)[1]. Namun ide tersebut tidak dilaksanakan oleh Umar karena beliau khawatir bila umat Islam terganggu perhatiannya dalam mempelajari Al-Quran
            Meskipun demikian kegiatan tulis  menulis hadist sebenarnya sudah dilakukan oleh para sahabat dimasa rasul masih hidup, sejarah telah mencatat banyak bukti tentang hal ini, dan bukti itu sekaligus menjawab tuduhan para orientalis, yang mengatakan bahwa hadist nabi tidak dapat dijadikan hujah oleh umat islam karena tenggang waktu yang lama pengkodifikasian hadist tersebut, Sejarah telah mencatat 52 sahabat telah menulis hadist yang bersumber dari rasul, terdapatnya shohifah-shohifah sahabat, menunjukkan bukti bahwa hadist yang ditulis oleh para sahabat itu masih orisinil sehingga telah sampai pada abad ke 2 dan berhasil dikodifikasikan oleh kalifah Umar bin abdul azis
      Tidak dapat disangkal lagi bahwa kegiatan tulis menulis dan juga kegiatan pendidikan di dunia Islam telah berlangsung sejak zaman Nabi SAW masih hidup. Ini dapat dilihat dengan adanya bukti-bukti bahwa ketika nabi masih hidup, para sahabat banyak yang mencatat hal-hal yang diimlakan beliau kepada mereka. Ada juga sejumplah sahabat yang menyimpan surat-surat nabi atau salinannya. Hudzaifah r.a. mengatakan bahwa Nabi meminta dituliskan nama orang-orang yang masuk Islam, maka Hudzaifah menuliskannya sebanyak 1500 orang. Selain itu ada juga aturan registrasi nama orang-orang yang mengikuti perang.[2]
      Bahkan seperempat abad sesudah Nabi wafat, di Madinah sudah terdapat gudang kertas yang berhimpitan dengan rumah Utsman bin Affan. Dan menjelang akhir abad pertama pemerintah pusat membagi-bagi kertas kepada para gubernur.[3], hal ini menunjukkan bahwa kegiatan tulis menulis pada zaman Nabi sudah sangat marak.
      Rasulullah SAW yang menjadi kepala negara Madinah semenjak tahun pertama Hijriyah hidup di tengah-tengah masyarakat sahabat, para sahabat bisa bertemu dengan beliau secara langsung tanpa adanya birokrasi yang rumit seperti sekarang ini.Rasulullah SAW bergaul dengan mereka di masjid , di pasar, rumah dan dalam perjalanan.
      Segala ucapan perbuatan dan kelakuan Rasulullah SAW-yang kita kenal sabagai hadits [4]  akan menjadi ushwah bagi para sahabat r.a. dan mereka akan berlomba-lomba mewujudkannya dalam kehidupan mereka. Dikarenakan tidak semua sahabat mendengar satu hadis secara bersamaan, kerena keterbatasan ini maka para sahabat menuliskan hadits dalam shahifah agar tidak tercecer.




BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pendapat tentang penulisan hadis pada masa awal, ada tiga pendapat yang berkembang.
1)      Pertama, mereka yang berpendapat bahwa masa Nabi dan sahabat, tidak ada tulisan ataupun catatan sama sekali, sehingga tidak ada bukti tertulis yang diketahui para tabi’in tentang hadis Nabi. Penulisan dan kodifikasi hadis baru dilakukan jauh setelah itu, yakni masa para tabi’in, itupun atas perintah penguasa Abbasiyyah Umar ibn Abdul Aziz, argument mereka tentang hal ini adalah:
 tidak adanya bukti tertulis dari Nabi atau sahabat yang asli. Pandangan ini dipegangi kelompok yang mempersoalkan orisinalitas hadis Nabi.
2)      Kedua,  pendapat yang dikemukakan, yang menyatakan bahwa penulisan hadis   sejak masa Nabi sudah dilakukan, hanya bersifat perseorangan, yang ditulis para sahabat tertentu untuk dirinya sendiri. Mereka berpandangan, tertundanya penulisan, kompilasi dan kodifikasi hadis, karena beberapa hal; yakni, minimnya sarana tulis dan kemampuan untuk menulis dengan baik,   hafalan para sahabat yang kuat dan larangan Nabi untuk menulis hadis.
3)      Ketiga, pendapat yang menyatakan penulisan hadis  sudah marak pada masa Nabi meski tidak semua hadis sudah selesai ditulis bahkan tercatat ada 52 sahabat yang memiliki tulisan Hadis,   yang ini menjadi rintisan kodifikasi hadis. Argumen yang mereka pegangi adalah tradisi tulis menulis sudah ada bahkan telah marak pada masa Nabi, sebagai bukti :
a)      Penulis wahyu, mencapai 40 0rang 
b)       Adanya penulis resmi untuk kenegaraan, seperti surat menyurat dan perjanjian-perjanjian
c)       Adanya izin Nabi yang membebaskan tawanan perang Badr dengan ditukar mengajar baca tulis pada 10 orang 
d)      Adanya Hadis Riwayat Abu Daud, yang artinya  Mengapa engkau tidak mengajar wanita itu mengobati cacar, sebagaimana engkau mengajari mereka menulis?
            Dari tiga pendapat di atas, penyusun makalah cenderung  mengikuti pandangan yang menyatakan bahwa penulisan hadis sudah ada sejak masa Nabi dan banyak dilakukan oleh para sahabat, sebagaimana tercatat dalam sejarah adanya manuskrip-manuskrip peninggalan abad 1 H dan banyaknya riwayat sahabat dan tabi’in yang menyatakan pernah melihat dan meriwayatkan hadis-hadis dari tulisan para sahabat.  Hanya saja, memang seluruh hadis Nabi belum tertulis dan tercatat pada masa awal secara tuntas.
             Dengan demikian, bila sejak masa Nabi tradisi tulis menulis sudah marak dan banyak sahabat yang menulis hadis, maka adanya alasan belum tertulisnya dan terkodifikasinya hadis secara tuntas masa Nabi atau alasan tertundanya kodifikasi hadis bukan karena kelangkaan sarana tulis, minimnya kemampuan menulis dan rendahnya kualitas tulisan mereka.hal ini didasari oleh beberapa Argumen yang mendukungnya adalah:
1)       Karena sejarah telah mencatat keberhasilan penulisan al-Qur’an secara tuntas dan pengkodifikasiannya masa sahabat.
2)        Para sahabat memiliki kemampuan menulis hadis secara total, pasti tidak ada kesulitan untuk mewujudkannya, sebagaimana terhadap al-Qur’an. Kalau para sahabat terbatas  kemampuannya dalam menulis, mustahil al-Qur’an selesai ditulis.
3)       Untuk apa dilarang menulis hadis, kalau mereka  dianggap tidak memiliki kemampuan. Adanya larangan melakukan sesuatu berarti pula penegasan adanya kemungkinan besar sesuatu itu dapat dilakukan. Dengan demikian, adanya anggapan bahwa mayoritas umat pada saat itu minim kemampuan tulis dan baca serta lebih mengandalkan kemampuan verbal atau kekuatan ingatan, bukan berarti me-generalisasikan semua  sahabat dalam taraf yang sama dari kapasitas kekuatan hafalan dan bahwa tidak ada yang bisa menulis dengan baik.

B.              (الأحاديث الواردة في النهي عن الكتابة والإذن فيها)
     Kebolehan dan larangan menulis Hadist
            Masalah boleh tidaknya menulis hadis Nabi, merupakan problem yang menarik untuk dikaji, mengingat adanya anggapan hal tersebut sebagai salah satu faktor tertundanya kodifikasi hadis. Dalam hal ini ternyata, ada beberapa riwayat hadis yang menyatakan kebolehan dan larangan menulis Hadis yang disandarkan pada qauliyyah Nabi.
1.      . Larangan  Menulis
            Ada tiga sahabat yang popular yang meriwayatkan bahwa Nabi SAW. melarang penulisan hadis, yakni AbuSaid al-Khudhriy,  Abu Hurairah dan Yazid bin Thabit.
a. Abu Said al Kurdhiy
            (a) melalui Hammam dari Zaid bin Aslam dari Ata bin Yasar dari Abu Said al-Khudhriy dari Nabi bersabda: 
  همام أخبرنا زيد بن أسلم، عن عطاء بن يسار، عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: " لا تكتبوا عني شيئاً سوى القرآن -قال (الصاغاني) غير القرآن- ومن كتب عني غير القرآن فليمحه، وقال: حدثوا عني ولا تكذبوا علي، ومن كذب علي - قال همام: أحسبه قال: متعمداً - فليتبوأ مقعده من النار




”Jangan kalian tulis apa yang kalian dengar dariku, barangsiapa yang menuliskan selain dari al-Qur’an, hendaklah dihapus”.(H.R. Muslim) [5]
. Jalur ini dinilai, sahih al-isnad.
              (b) Melalui Abd al-Rahman bin Zaid bin Aslam dari Zaid bin Aslam dari Ata bin Yasar dari Abu Said al-Khudhriy: 
جهدنا بالنبى صلى الله عليه وسلم أن يؤذن لنا فى الكتاب فأبى
Artinya:  Kami pernah minta izin Nabi SAW. untuk menulis hadis-hadis , tetapi beliau tidak mengizinkannya Dalam jalur ini, ada rawi yang dinilai lemah, yakni Abd al-Rahman.
b. Abu Hurairah
               Melalui Abd al-Rahman bin Zaid bin Aslam dari Zaid bin Aslam dari Ata bin Yasar dari Abu Hurairah. Abu Hurairah berkata, Nabi diberitahu bahwa banyak sahabat menulis hadis, maka beliau naik ke mimbar dan setelah membaca hamdallah, beliau bertanya: Apa yang kalian tulis? Hadis-hadis yang kami dengar dari engkau. Nabi lalu bersabda: 
كتاب غير كتاب الله ؟ أتذرون ؟ ما ضل الأمم قبلكم إلا بما اكتبوا من الكتب مع كتاب الله
Artinya:
Kitab selain kitab Allah? Tahukah kalian? Tidaklah tersesat umat-umat sebelum kalian. kecuali karena kitab-kitab yang mereka tulis bersanma Kitabullah
 Sanad ini lemah, karena ada rawi yang daif, Abd al-Rahman.
c. Zaid bin Thabit
            Dari  Mutalib bin Abdullah bin Hantab, Mutalib berkata Zaid bin Thabit datang kepada Muawiyyah, dan ditanya tentang suatu hadis. Muawiyyah lalu menyuruh pembantunya menuliskan hadisnya, Zaid lalu mengatakan Rasul melarang untuk menulis hadis. Riwayat ini dianggap lemah, karena Mutalib tidak langsung mendengar dari Zaid.
            Dari beberapa jalur riwayat di atas, berdasar pentakhrijan para ulama, satu jalur sanad dari Abu Said  melalui Hammam  yang kualitasnya sahih,  dua jalur lain melalui Abdal-Rahman yang dianggap daif dan satu jalur riwayat Zaid dianggap tidak muttasil.
2.       Kebolehan Menulis
            Ada beberapa riwayat yang menyatakan kebolehan menulis hadis-hadis Nabi, di antaranya dari Abdullah ibn Amr ibn As, Rafi ibn Khudaij, Abu Hurairah dan Ibnu  Abbas.
 1. Abdullah bin Amr bin Ash
           Abdullah bin Amr bin As, menyatakan bahwa ia menulis segala yang didengar dari Nabi dan menghafalkannya, tetapi kaum Quraisy menegurnya dengan alasan Engkau menulis segala apa yang Engkau dengar dari Nabi padahal Nabi manusia biasa yang berbicara pada saat marah dan Abdullah ibn Amr ibn As lalu melapor kepada Nabi. Nabi pun menunjuk mulutnya, seraya menyatakan:

اكتب عني فوالدى نفسي بيده ماخرج من فمى الآ حقٌ
Artinya:
”Tulislah, maka jiwaku yang berada ditangan-Nya tidaklah keluar dari mulutku
kecuali kebenaran[6]

2. Rafi ibn Khudaij
            Rafi bertanya kepada Nabi, Kami mendengar banyak hal dari engkau apakah kami boleh menuliskannya? Jawab Nabi : 
أكتبوا ولا حرج     Artinya: Tulislah dan tidak apa-apa
3.       Abu Hurairah
             Pada peristiwa Fath al-Makkah, Nabi berpidato di hadapan umat Islam. Ketika itu, ada seorang sahabat dari Yaman bernama Abu Shah meminta kepada Nabi agar dituliskan pidato Nabi. Nabi lalu menyuruh para sahabat menuliskan: 
وروى أبو داود في سننه عن أبي هريرة قال: لما فتحت مكة قام النبي صلى الله عليه وسلم فذكر الخطبة - خطبة النبي صلى الله عليه وسلم - قال: فقام رجل من أهل اليمن يقال له أبو شاه فقال: يا رسول الله اكتبوا لي، فقال: "اكتبوا لأبي شاه" [7] .
    4). Ibnu Abbas
    Bahwa tatkala Nabi sakit sangat parah, beliau berkata:  
: إيتونى بكتاب  أكتب لكم كتابا لاتضلوا من بعده
Artinya:
            Bawakan kepadaku suatu kitab. Aku akan menuliskannya untuk kalian, yang setelah itu kalian tidak tersesat Umar berkata, sesungguhnya Nabi sedang sakit dan mereka telah memiliki al-Qur’an. Sehingga para sahabat berselisih pendapat, dan terjadilah kegaduhan. Beliaupun bersabda:
قوموا عنى ولا نتبفى عندى التنازع
Tinggalkan aku, tidak seyogyanya kalian bertikai di depanku.
            Berdasar penelitian para ulama hadis beberapa riwayat di atas, khususnya yang berasal dari Sahih Bukhari maupun Sahih Muslim berkualitas sahih, sehingga dapat diambil kehujjahannya.
            Berangkat dari beberapa riwayat yang muta’aridah atau kontradiktif  tersebut, beberapa ulama menawarkan solusi untuk memahaminya:
1.      Hadis  yang melarang penulisan hadis (hanya satu hadis yang sahih) mauquf alaih atau ditangguhkan, sehingga tidak dijadikan hujjah.
2.       larangan terhadap penulisan hadis berlaku khusus bila penulisan hadis dan al-Qur’an dalam satu naskah sehingga menjadikan kekhawatiran bercampurnya tulisan hadis dan al-Qur’an.
3.       Larangan berlaku bagi orang yang  dapat diandalkan hafalannya dan dikhawatirkan memiliki ketergantungan dengan tulisan. Sedang kebolehan berlaku bagi orang yang tidak bisa mengandalkan hafalannya, seperti kasus Abu Shah.
4.       Bahwa Larangan bersifat umum, kebolehan bersifat khusus bagi yang mahir baca tulis, sehingga tidak dikhawatirkan melakukan kesalahan, sebagaimana kasus Abdullah Amr ibn As.
            Empat pandangan di atas meskipun  agak berbeda, sebenarnya mengarah pada realitas kebolehan  menulis hadis Nabi, hanya saja pendapat kedua yang paling menukik dengan mensyaratkan tidak satu naskah karena takut tercampur dengan al-Qur’an.
            Berdasar data-data di atas, maka dapat kita pahami mengapa penulisan hadis secara keseluruhan tidak selesai masa Nabi dan sahabat. Ada beberapa alasan yang mendukung untuk itu:
1.       Fokus utama pada masa-masa awal Islam adalah mengkaji, menghafal, memahami  dan mendalami apa yang  tertuang dalam sumber utama, al-Qur’an.
2.       Segala apa  yang diajarkan dan disampaikan Nabi kepada para sahabat telah langsung diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka, dan ketika mereka menemukan satu persoalan mereka bisa langsung menyakan dan mendapatkan jawabannya dari Nabi.
3.       Kekhawatiran tercampurnya tulisan al-Qur’an dengan hadis, karena al-Qur’an sebagai kajian utama.
4.      Secara kuantitas materi hadis relatif jauh lebih banyak dari al-Qur’an, karena tidak saja mencakup qauliyyah Nabi, tetapi juga fi’liyyah, taqririyyah, bahkan sifat khalqiyyah maupun khuluqiyyah Nabi. Terlebih ketika mendapatkan satu realitas bahwa periwayatan hadis biasa dilakukan bil ma’na juga, semakin memperbesar kuantitas materi hadis yang harus ditulis.

            Dan ternyata setelah Rasulullah SAW meninggal dunia sahifah-sahifah berisi hadits- hadits Rasullah SAW seperti sahifah Sa’ad Ibnu Abu Ubadah, Sahifah Jabir Ibn Abdullah, Samurah Ibn Jundab dan yang lainnya[8]. Bahkan Muhammad Mustafa Azami PhD menulis dalam tesis doktoralnya yang berjudul Studies in Early Hadits Literature menyatakan bahwa sejak awal pertama hijriyah buku-buku kecil berisi hadits telah beredar[9].
      Walaupun ada sahifah-sahifah berisi hadits-hadits Rasulullah SAW, kodifikasi hadits ini tidak dilakukan secara formal seperti halnya al-Qur’an sampai abad pertama Hijriyah berlalu, padahal bisa saja para sahabat mengumpulkan hadits-hadits shahih dan mensarikannya dalam sebuah kitab. pengarang fajrul Islam memberi komentar
            Mungkin hal itu juga terpikirkan oleh sebagian mereka, tetapi pelaksanaannya amat sukar. Sebab mereka tahu sewaktu Nabi SAW wafat jumlah sahabat yag mendengarkan dan meriwatkan dari beliau 114.000 orang. Setiap orang masing- masing mempunya satu, dua hadits seringkali nabi mengatakan sebuah hadits di hadapan segolongan sahabat yang tidak didengar oleh golongan lain[10].
C .Periode Penulisan Hadist Abad I
      Adapun dalam perkembangan penulisan hadits telah dicoba mengelompokkannya kedalam beberpa periode, seperti yang dirumuskan oleh M Hasbi Asyiddiqi yang membagi kedalam beberapa periode pada masa Nabi, sahabat,dan tabi’in yaitu pada abad pertama, M Hasbi Asyiddiqi membagi menjadi tiga periode[11].
1. Periode Pertama (Masa Rasulullah SAW)
            Pada periode pertama para sahabat langsung mendengarkan hadis dari Rasulullah SAW atau dari sahabat lain, hadis-hadis diriwatkan secara berpindah-pindah dan disampaikan dari mulut ke mulut Masing-masing perawi pada waktu itu meriwayatkan hadis berdasarkan kekuatan hapalannya, memang hapalan mereka terkenal kuat sehingga mampu mengeluarkan kembali hadis-hadis yang pernah direkam dalam ingatannya karena para sahabat tersebar di penjuru negeri, ada yang di Dusun, dan ada yang di kota. Adakalanya diterangkan oleh istri-istri rasul seperti dalam masalah kewanitaan dan rasulullah SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menghapal dan menyebarkan kepada orang lain hadits-haditsnya diantara sabda beliau
            Hendaknya yang ada disini menyampaikan (apa yang diperolehnya) kepada yang tidak ada. Banyak orang yang menyampaikan (ilmu kepadanya  orang lain) lebih mengerti daripada yang mendengar  langsung dari sumbernya. [12]
Juga sabda Rasulullah Sholallahu 'alahi wasallam lainnya
وقال: حدثوا عني ولا تكذبوا علي، ومن كذب علي - قال همام: أحسبه قال: متعمداً - فليتبوأ مقعده من النار "[13]
”Dan ceritakanlah dari padaku, tidak ada keberatan bagimu untuk menceritakan apa yang kamu dengar daripadaku. Barang siapa yang berdusta terhadap diriku, hendaklah ia bersedia menempati kedudukannya di neraka.”
      Pada masa ini nabi lebih menekankan kepada para sahabat untuk menyebarkan hadist melalui hafalan mereka,serta menuntut ilmu agama dengan sungguh-sungguh, adapun pelarangan dan perizinan menulis hadist juga terjadi di masa ini dan itu sudah kita bahas pada bab sebelumnya
2. Periode Kedua (Masa Khalifah Rasyidah)
      Pada masa perintahan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a., pengembangan hadits tidak begitu pesat, hal ini disebabkan kebijakan kedua khalifah ini dalam masalah hadits, mereka menginstruksikan agar berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Bahkan khalifah Uimar r.a dengan tegas melarang memperbanyak periwayatan hadits.Hal ini dimaksudkan agar al-Qur’an terpelihara kemudian ummat Islam memfokuskan dirinya dalam pengkajian al-Qur’an dan penyebarannya.
      Hakim meriwayatkan; pernah suatu malam Abu Bakar r.a merasa bimbang sekali, pagi harinya ia memanggil putrinya Aisya r.a dan meminta kumpulan hadits yang ada padanya lalu Abu Bakar membakarnya.
      Lain halnya ada masa khalifah Utsman dan Ali r.a, mereka sedikit memberi kelonggaran dalam mengembangkan hadits tetapi mereka masih sangat berhati-hati agar tidak bercampur dengan al-Qur’an, Khalifah Ali r.a, melarang penulisan selain al-Qur’an yang sesungguhnya ditujukan untuk orang-orang awam, karena beliau sendiri memiliki sahiofah yang berisi kumpulan hadits
a).  Metode Sahabat dalam Menjaga Sunnah Nabi SAW.
      1.       Kehati-hatian dalam meriwayatkan hadis. Seperti : 
            Metode Abu Bakar dan Umar dalam menyelesaikan ketentuan hukum adalah mengembalikan permasalahan pada Al-Qur’an. Jika tidak menemukannya, maka ia bertanya pada sahabat lain :  ‘Apakah ada yang mengetahui bahwa Rasul pernah memutuskan perkara seperti itu?
Pada masa Khulafa al-Rasyidin, cenderung membatasi atau menyedikitkan  riwayat (Taqlil al-Riwâyah).
           2.   Kecermatan (selektif) sahabat dalam menerima riwayat. Jaminan akan kesahihan riwayat dan kapasitas pembawanya. Mencari hadis dari perawi lain. Meminta kesaksian selain periwayat.

3. Periode Ketiga ( Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in Besar)
      Setelah berakhirnya masa pemerintahan Ali r.a, ummat Islam dilanda fitnah besar, dimana mereka terpecah menjadi 3 golongan; Golongan pendukung Ali (syi’ah), golongan pendukung Muawiyah dan golongan Khawarij.
      Dalam perkembangannya golongan-golongan ini mulai memalsukan hadits dengan tujuan membenarkan golongan mereka dan menjatuhkan golongan lain. Hal ini mendorong para sahabat dan tabi’in lebih berhati-hati dalam meriwatkan dan mengumpulkan hadits. Tapi walau bagaimanapun belum ada kodifikasi secara formal.
      Abad pertama seluruhnya mencakup masa sahabat, sebab sahabat-sahabat yang banyak meriwayatkan hadits meninggal pada abad pertama Hijriyah ini, walaupun ada yang meninggal sesudah itu.
D. Daftar nama sahabat yang menulis hadist
      Disini akan dituliskan nama-nama sahabat, serta kegiatan mereka berkenaan dengan penulisan hadits, serta tahun mereka lahir dan kapan wafatnya. Hal ini penting kita ketahui dalam pembahasan sejarah penulisan hadits.
1. Abu umamah al-Bahili
            Nama aslinya Shudai bin ’Ajlan, RA (10 SH - 81 H). Beliau termasuk yang berpendapat membolehkan penulisan hadits. Hadits-hadits beliau ditulis oleh al- Qasim al-Syami.[14]
2. Abu Ayyub al-Ansari
            Nama aslinya Khalid bin Zaid, RA. (w. 52 H) beliau menulis beberapa hadits Nabi dan dikirimkan kepada kemanakannya, seperti yang dituturkan dalam kitab Musnad Imam Ahmad[15]. Cucu beliau, yaitu Ayyub bin Khalid bin Ayyub al-Ansari juga meriwayatkan 112 hadits. Yang biasanya hadits yang banyak semacam ini dalam lembaran-lembaran (shahifah).
3.Abu Bakar al-Siddiq, RA. ( 50 SH – 13 H)
            Dalam suratnya kepada Anas bin Malik, gubernur Bahrain, Abu Bakar mencantumkan beberapa hadits tentang wajibnya membayar zakat bagi orang- orang Islam[16]. Abu bakar juga berkirim surat kepada ’Amr bin al-’Ash, dimana dalam surat itu dicantumkan beberapa hadits Nabi [17]
4. Abu Bakrah al-Tsaqafi
            Nama sebenarnya Nufa’i bin Masruh (w. 51 H). Beliau menulis surat kepada anaknya yang menjadi hakim di Sijistan, dimana beliau mencantumkan beberapa hadits berkaitan dengan peradilan[18]

5.Abu Rafi, Mantan Sahaya nabi SAW.
            Beliau wafat sebelum tahun 40 H. Abu Bakr bin Abd Rahman mengatakan, ia diberi kitab oleh Abu Rafi’ yang berisi hadits-hadits tentang pembukaan shalat[19]. Hadits-hadits dari Abu Rafi’ ditulis oleh Abdullah bin ’Abbas; seperti yang dituturkan Salma, ia melihat Abdullah bin Abbas membawa papan-papan untuk menulis hadits-hadits amaliah Nabi dari Abu Rafi[20].
6. Abu Sa’id al-Khudri
            Nama aslinya Sa’ad bin malik, RA, (w. 74 H). Beliau dekenal sebagai orang yang melarang murid-muridnya untuk menulis hadit-hadits daripadanya. Tetapi beliau menulis hadits untuk dirinya sendiri, sebagaimana dikutip al-Khatib al-Bagdadi dalam kitab Taqyyid al-’Ilm bahwa beliau berkata ”Saya tidak menulis apapun selain al-Qur’an dan tasyahhud[21].
7. Abu Syah, orang dari Yaman

            Ketika Rasulullah SAW menaklukkan kota Makkah, beliau berpidato, lalu Abu Syah memohon kepada Rasulullah agar isi pidato itu dituliskan untuknya. Maka Rasulullah bersabda,”Tuliskanlah untuk Abu Syah.[22].


8. Abu Musa al-Asy’ari          
            Nama aslinya Abdullah bin Qais, RA (w. 42 H). Konon beliau menentang penulisan hadits Nabi. Tetapi beliau menulis surat kepada Abdullah bin Abbas dengan mencantumkan beberapa hadits nabi [23].
9. Abu Hurairah, RA (19 SH – 59 H)
            Belaiu adalah tokoh orang-orang yang hafal hadits. Pada awalnya Abu hurairah tidak memiliki kitab hadits, tetapi pada masa-masa belakangan beliau menuturkan bahwa beliau mempunyai kitab-kitab hadits, seperti dalam kisah yang diriwayatkan oleh Fadlbin ’Amr bin Umayyah al-Dlamri [24].
10. Abu Hind al-Dari,

            Hadits-haditsnya ditulis oleh Ma,khul [25].

11. Ubai bin Ka’ab bin Qais al-Anshari, RA (w. 22 H)
            Beliau adalah tokoh sahabat ahli qira’at. Hadits-hadits beliau ditulis oleh Abu al-’Aliyah Rufai’ bin Mahran dalam sebuah naskah (buku) besar. Hadits-haditsnya menyangkut masaalah penafsiran al-Qur’an [26].
12.Asma binti ’Umais, RA (w. Sesudah 40 H)
            Semula beliau adalah istri Ja’far bin Abu Thalib, lalu menikah dengan Abu bakar, kemudian dengan Ali bin Abi Thalib. Dan dari ketiga suami tersebut beliau melahirkan putra-putra. Beliau nenyimpan sahifah yang berisi hadits-hadits Nabi [27]
13. Usaid bin Hudhari al-Ansari, RA
            Beliau wafat pada masa Khalifah Marwan bin al-Hakam. Beliau menulis hadits- hadits Nabi, keputusan-keputusan hukum yang yang ditetapkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman. Tulisan beliau itu dikirimkannya kepada Marwan [28].
14. Anas bin Malik, RA. (10 SH – 93 H)
            Beliau adalah seorang imam, pembantu Nabi dan ahli hadits, sangat pandai menulis. Dalam beberapa riwayat bahwa Anas bin Malik mempunyai banyak kitab. Abu Hurairah berkata, ”Apabila Anas bin Malik hendak mengajarkan haditsnya dan ternyata jumlah muridnya banyak sekali, beliau membawakan kitab-kitabnya, kemudian berkata ”ini adalah hadits-hadits yang saya dengar dari rasulullah SAW, saya menulisnya dari beliau dan kemudian saya perlihatkan kembali kepada beliau [29].
15. al-Bara’ bin Azib, RA. (w. 72 H)
            Murid-murid beliau menulis hadits di hadapan beliau. Seperti keterangan Waki’, ia diberitahu Ayahnya, dari Abdullah bin Hansy, katanya: “Saya melihat para murid itu menulis dengan kayu dan alas tas-tas yang biasa ditaruh di punggung hewan di kediaman al-Bara”[30].
16. Jabir bin Samurah, RA. (w. 74 H)
            Beliau menulis hadits kemudian mengirimkannya kepada ’Amir bin Saad. Kata Amir bin Sa’ad, ”Saya menulis surat kepada Jabir dibawah oleh budakku yang bernama Nafi’, agar saya diberitahu hal-hal yang pernah didengarnya dari Rasulullah. Maka Jabir membalas suratku seraya menyebutkan Hadits-hadits Nabi”[31].
17. Jabir bin Abdillah bin Amr bin Haram, RA. (16 Sh – 78 H)
            Beliau adalah sahabat yang wafat paling akhir di Madinah, disamping sebagai penulis buku pada masa-masa awal. Beliau mempunyai kitab tentang masalah haji yang kemudian ditulis kembali oleh Imam Muslim[32].
18. Jarir bin Abdullah al-Bajali, RA. (w. 54 H)
            Beliau menulis hadits dan mengirimkannya kepada Mu’awiyah. Seperti yang dituturkan oleh Abu Ishaq bahwa Jarir bin Abdullah termasuk rombongan yang dikirim ke Amernia. Mereka ditimpa kekurangan pangan. Lalu Jarir menulis surat kepada Mu’awiyah dimana disebutkan, ”Saya mendengar rasulullah bersabda, ”Barang siapa tidak kasih sayang kepada sesama manusia, maka Allah tidak akan mengasihinya[33].
19. Hasan bin Ali, RA. (3 – 50 H)
            Beliau pernah berkata kepada orang-orang yang tidak kuat hafalannya agar menulis hadits. Beliau juga menyimpan fatwa-fatwa Ali yang terhimpun dalam satu sahifah[34].
20. Rafi’ bin Khadij al-Ansari, RA ( 12 H – 74 H)

            Beliau menyimpan hadits-hadits Nabi yang tertulis di atas kulit[35].

21.Zaid bin Arqom (w. 66 H)
            Beliau menulis hadits dan mengirimkannya kepada Anas bin Malik. Dalam surat itu Zaid mengatakan, ”saya akan menyampaikan kabar yang menggembirakan dari Allah untukmu.yaitu saya mendengar Rasulullah SAW berdo’a,”wahai Allah, ampunilah dosa orang – orang anshor dan anak-anaknya[36].
22. Zaid bin Tsabit Al- Anshori, RA (w 45 H )
            Beliau ahli qira’at dan menjadi sekertaris Nabi. Zaid terbukti menulis Hadits- hadits Nabi, sebagaimana beliau menulis juga menulis pendapat-pendapatnya sendiri misalnya dalam masalah kakek ( dalam hukum waris ), Zaid menulis hal itu kepada Umar bin Khatthab atas permintaan Umar. Tulisan Zaid itu termasuk buku yang pertama kali ditulis dalam masalah faraid[37].
       23.Subai’ahal-Aslamiyah
            Beliau adalah istri Sa’ad bin Kaulah. Meriwayatkan hadits dari nabi SAW. Beliau juga menuliskan hadist untuk para Tabi’in.

24. Sa’ad bin Ubadah al-Anshari, Sayyid al-Khazraj, RA. (w. 15 H)
            Sejak masa Jahiliyah beliau sudah aktif menulis. Beliau juga memiliki kitab-kitab yang kemudian diriwayatkan oleh beberapa anggota keluarganya. Bahwa didalam kitab-kitab Sa’ad bin Ubadah terdapat keterangan bahwa Raslullah SAW mengadili perkara dengan sumpah ditambah saksi[38].

25. Salman al-Farisi, RA (w. 32 H)
            Beliau menuliskan hadits-hadits Nabi untuk Abu Darda[39].

26. al-Sa’ib bin Yazid, RA (2 – 92 H)
            Salah seorang murid beliau, yaitu Yahya bin Sa’id menulis sejumlah hadits yang berasal dari beliau, dan dikirimkannya kepada Ibn Lahi’ah. Ibn Lahi’ah sendiri menuturkan bahwa Yahya bin Sa’id mendengar sendiri hadits-hadits itu dari al- Sa’ib bin Yazid[40].
27. Samurah bin Jundub, RA (w. 59 H)
            Beliau menghimpun hadits-hadits Nabi dalam bentuk buku. Beliau juga menulis hadits kepada putranya damana dicantumkan banyak hadits-hadits Nabi.[41]

28. Sahl bin Sa’ad al-Sa’idi al-Anshari, RA (9 SH – 91 H)
            Hadits-hadits beliau diriwayatkan oleh putranya Abbas, al-Zuhri, dan Abu Hazim bin Dinar. Abu Hazim mengumpulkan hadits-hadits Sahl bin Sa’ad al-Sai’i, kemudian putranya Abu Hazim meriwayatkan hadits-hadits itu[42]
29. Syaddad bin Aus bin Tsabit al-Anshari, RA. (17 SH-58 H)
            Beliau adalah ahli fiqih, Saddad bin Aus mengimlakan haditsnya kepada sejumlah pemuda. Beliau berkata ”Saya akan memberitahu tentang hadits yang diajarkan Nabi SAW kepada kita untuk waktu berpergian dan di rumah. Lalu beliau mengimlakannya.[43].

30. Syamghun al-Anshari, Abu Raihana, RA.
            Beliau termasuk tokoh penduduk Damaskus, dan orang pertama yang melipat sahifah yang lebar untuk menulis hadits mudraj dan maqlub. Urwah al-â’ma, hamba sahaya bani Sa’ad, menuturkan, pada waktu Abu Raihana naik perahu, beliau membawa sahifah-sahifah hadits.[44]
31. al-Dhahhak bin Sufyan al-Kilabi, RA.
            Rasulullah SAW mengirimkan surat kepada al-Dhahhak dan memerintahkan agar istri Asyim al-Dhababi diberi warisan dari diyat (denda pembunuhan) suaminya. Kemudian al-Dhahhak menulis surat keada Umar bin Khattab, menerangkan hadits tersebut[45].
32.al-Dhahhak bin Qais al-Kilabi, RA. (wafat terbunuh tahun 64 H atau 65 H)

            Beliau menulis surat untuk Qais bin Haitsman seraya menyebutkan beberapa hadits Nabi.[46]

33. Umm al-Mu’minin ’Aisyah binti Abu Bakar al-Siddiq, RA. (w. 58 H)
            Beliau adalah wanita yang sangat cerdas sangat paham al-Qur’an sunnah dan perkara agama lainnya. Beliau bersama Rasulullah sejak umur 9 tahun sehingga beliau banyak meriwayatkan hadits yang jumlahnya mencapai 2210 buah hadits. Beliau pandai membaca dan sering menerima surat dari orang-orang yang menanyakan satu masalah dalam agama[47].



34. ’Abdullah bin Abu Aufa, RA. (w. 86 H)
            Beliau adalah Sahabat Nabi yang wafat paling akhir di Kufa. Ada beberapa murid beliau yang menuliskan hadits dari beliau ataupun ada yang memintakan agar dituliskan hadits[48].
35.’Abdullah bin al-Zubair, RA. (2 - 73 H)

            Beliau menulis surat kepada salah seorang hakimnya yang bernama Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, seraya mencantumkan sebuah hadits Nabi[49].

36.’Abdullah bin ’Abbas, RA. (3 SH - 68 H)
            Beliau sangat alim, sampai disebut tintanya ummat islam. beliau menulis hadits- hadits Nabi dan terkadang menyuruh hamba-hambanya untuk menulis hadits.[50]

37.’Abdullah bin ’Umar bin al-Khattab, RA(10 SH - 74 H)
            Beliau adalah alim, dan selalu melakukan hal-hal yang dilakukan Rasulullah baik hal yang kecil maupun yang besar. Dalam surat-suratnya beliau menulis hadits- hadits Nabi. Beliau juga memiliki buku-buku hadits serta mempunyai naskah kitab sadaqah milik Umar bin Khattab, yang ternyata itu adalah naskah kitab sadaqah Nabi SAW.[51]
38.‘Abdullah bin ’Amr bin al-Ash, RA. (27 SH - 63 H)
                Beliau banyak menuliskan hadit-hadits Nabi, mengimlakan haditsnya kepada muridnya. Dan menulis sebuah sahifah tentang  maghazi (kisah peperangan Nabi SAW[52].
39. ‘Abdullah bin Mas’ud al Hadzali, (w.32 H)
            Beliau ahli fiqih yang ulung, diutus ke Kufah sebagai guru dan wazir. Beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa beliau menulis hadits adalah Juwaibir dari al- Dhahhak dari Abdullah bin mas’ud, katanya “Ketika Nabi masih hidup, saya tidak menulis hadits kecuali hadits tentang tasyahhud dan istikharah. Dan juga diriwayatkan bahwa Abd Rahman bin Abdullah bin Mas’ud pernah memperlihatkan sahifah dan ia bersumpah bahwa sahifah itu tulisan tangan ayahnya.[53]
40.‘Utban bin Malik al-Anshari, RA. (wafat pada masa Mu’awiyah RA)

            Beliau dipersaudarakan dengan Umar bin Khattab. Anas bin Malik pernah menyuruh putranya agar menulis hadits yang diriwayatkan Utban bin Malik[54].

41.’Ali bin Abi thalib, RA. (23 SH - 40 H)
            Beliau adalah hakimnya ummat Islam, termasuk salah seorang sekertaris Nabi. Beliau memiliki sahifah yang disebutkan dalam banyak sumber.[55].
42. Umar bin Khattab, RA. (40 SH – 23 H)
            Beliau adalah wazir Nabi SAW. Menulis hadits-hadits Nabi dalam surat-surat resmi. Abu Ubaidah bin Jarrah juga menulis surat untukUmar, lalu Umar menjawab, dengan mencantumkan beberapa hadits Nabi. Umar juga mengelompokkan hadits-hadits yang khusus membahas Zakat dalam suatu surat[56].
43. Amr bin Hamz al-Anshari, RA (wafat sesudah 50 H)
            Beliau ditugaskan oleh Nabi untuk menjadi kepala daerah Najran. Nabi SAW juga mengirimkan surat kepadanya dimana Nabi SAW menuliskan hadits- haditsnya.kemudian Amr bin Hazm membukukan surat-surat Nabi. Buku ini kemudian diriwayatkan oleh putranya. Dan sekarang buku ini dicetak bersama dengan buku ‘î’lam al Sailin ‘an kutub sayyid al-mursalin’ karangan Ibn Tulun.[57]

44.Fatimah al-Zahra binti Rasulllah SAW (w. 11 H)

            Beliau menyiman sahifah yang berisi wasiat beliau sendiri. Dalam wasiat itu terdapat juga hadits-hadits Nabi SAW.[58]

45. Fatimah binti Qais, RA

            Beberapa hadits beliau ditulis oleh Abu Salamah[59].

46. Muhammad bin Maslamah al-Anshari, RA 31 SH - 46 H)

            Setelah beliau wafat, di dalam sarung pedangnya ditemukan sebuah sahifah yang berisi hadits-hadits Rasulullah SAW[60].

47. Mu’adz bin Jabal, RA (20 SH – 18 H)
            Beliau diutus oleh Rasulullah ke Yaman dan dikirimi surat oleh rasulullah yang berisi hadits-hadits tentang zakat. Yang kemudian menjadi kitab Mu’adz (yang berisi surat-surat Nabi SAW).[61]
48. Mu’awiyah bin Abu Sufyan, RA (w. 66 H)
            Beliau termasuk sekertaris Nabi. Dan dari Nabi pula beliau belajar membuat titik huruf. Beliau pernah menulis surat kepada Ummul Mukminin Aisyah agar dituliskan hadits-hadits yang didengarnya dari Rasulullah. Beliau juga pernah berkirim surat kepada Marwan dimana disebutkan beberapa hadits Nabi SAW[62].
49. al-Mughirah bin Su’bah (w. 55 H)
            Warrad, sekertaris al-Mughira mengatakan bahwa ia menuliskan surat al- Mughirah yang mendiktekannya dan dikirim kepada Mu’awiyah, dalam surat tersebut terdapat hadits Nabi SAW.[63]
50. Ummul Mukminin Maimunah binti Harits al-Hilaliyah, RA (w. 51 H)

            Beliau dinikahi oleh Rasulullah pada tahun 7 H. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh  hamba-hambanya[64].

51. Nu’man bin Basyir al-Anshari, RA (2 – 65 H)
           
            Beliau menjadi walikota Hamsh di Syam. Ada tiga orang yang menyimpan tulisan hadits beliau, yaitu: Qais bin al-Haitsam, al-Dahhak bin Qais, Habib bin Salim[65].

52. Watsilah bin al-Asqa’, RA (22 SH – 83 H)
            Beliau mengimlakan hadits kepada murid-muridnya. Seperti yang dikatakan oleh Ma’ruf al-Khayyat, beliau melihat Watsilah mendektekan hadits Nabi dihadapan murid-muiridnya.[66]


















BAB II
PENUTUP

      Sebagai kesimpulan bahwa adanya larangan untuk menulis hadits pada masa wahyu masih turun, adalah merupakan sikap kehati-hatian Rasulullah dalam menjaga kemurnian al-qur’an yang diikuti oleh para Khalifa Rasyidah dengan memberikan batasan secara ketat dalam penulisan hadits. Sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang diperbolehkan menulis hadits. Itupun dalam rangka memenuhi kebutuhan ummat akan suatu permasalah agama yang belum diketahui. Sehingga kita dapat melihat kegiatan tulis-menulis hadits lebih pada surat kepada Sahabat yang lain. Ataupun hadits-hadits Nabi ditulis sebagai koleksi pribadi Sahabat.
      Meskipun diakui banyak pihak kodiifikasi hadis secara total memiliki rentang waktu yang panjang dengan masa Nabi, namun bukan berarti tidak ada tali pengait yang menjembatani keduanya. Adanya naskah-naskah awal yang ditulis oleh para sahabat dan sampainya naskah-naskah itu pada generasi selanjutnya sehingga berhasil dikodifikasikan oleh kolifah umar bin abdul azis menjadi bukti keorisinilan hadist nabi, dan hal ini sekaligus menjadi indikasi dapat terjaganya hadis ke dalam bentuk tulisan
            Akhirnya kita memohon dan berdo’a kepada Allah agar kita senantiasa dapat mengikuti sunnah-sunnah Rasul-Nya dan Menyebarkannya. Allahumma Amin.

                                                           



DAFTAR PUSTAKA

·          Azami Muhammad Mustafa , Studes in Early Hadith Literature, Terj. Ali Mustafa Ya'qub, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000
·         Hasan Qadir, Ilmu Musthalah Hadits, Bandung: Dipenegoro, 2007.
·         Rosnawati Ali, Pengantar Ilmu Hadits, Kualalumpur: Ilham Abati Enterprise, 1997.
·         Azami Muhammad Mustafa, Metodologi Kritik Hadits, Bandung: Pustaka Hidayah,1996.
·         Ahmad Amin, Fajrul Islam, Terj. Zaini Dahlan, Jakarta: Bulan Bintang, 1968.
·          Hasby Muhammad Ash Shiddeqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta, 1998.
·         Hanbal, Ahmad. Musnad al-Imam Ahmad. tahqiq Ahmad Muhammad Shakir. Kairo: Dar al-Ma’arif
·         Al-Khatib, Muhammad Ajjaj. al-Hadis ulumul wa Mustalahuh. Beirut: Dar al-Fikr, 1989.
·         Al-Zahabi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad. Kitab Tadhkirah al-Huffaz. Juz I.: Dairah al-Ma’arif, 1955
·        محمد بن عبد الوهاب بن سليمان,: رسالة لشيخ الإسلام محمد بن عبد الوهاب (المتوفى: 1206 
·        حسناء بنت بكري نجار, كتابة الحديث النبوي في عهد النبي صلى الله عليه وسلم بين النهي والإذن: مجمع الملك فهد لطباعة المصحف الشريف بالمدينة المنورة ,عدد الأجزاء: 1
·        محمد بن إسماعيل أبو عبدالله البخاري الجعفي: الجامع المسند الصحيح, البخاريالأولى، 1422هـ عدد الأجزاء:1


[1] http://aadesanjaya.blogspot.com/2010/10/penghimpunan-hadits.html
[2] Muhammad Mustafa Azami, Studes in Early Hadith Literature, Terj. Ali Mustafa Ya'qub, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000. Hlm. 103
[3] Ibn Abd al-Hakam, Sirah Umar bin Abdul Aziz, yang dikutip oleh M.M. Azami dalam buku beliau Studes in Early Hadith Literature, Terj. Ali Mustafa Ya'qub, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000. Hlm. 104
[4] Lihat A. Qadir Hasan, Ilmu Musthalah Hadits, Bandung: Dipenegoro, 2007. hlm. 17.
[5] صحيح مسلم بشرح النووي، كتاب الزهد، 18/129
[6] Hasby Ash Shiddeqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta, 1998. hlm. 33
[7]  سنن أبي داود، كتاب العلم 3/319، والبخاري في العلم 1/205، (والفتح) بأطول منه
[8]Rosnawati Ali, Pengantar Ilmu Hadits, Kualalumpur: Ilham Abati Enterprise, 1997. hlm. 67
[9] Muhammad Mustafa Azami, Metodologi Kritik Hadits, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996. hlm. 121
[10] Ahmad Amin, Fajrul Islam, Terj. Zaini Dahlan, Jakarta: Bulan Bintang, 1968. hlm. 285
[11] . Hasby Ash Shiddeqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta, 1998. hlm. 47
[12]  محمد بن إسماعيل أبو عبدالله البخاري الجعفي: الجامع المسند الصحيح, البخاريالأولى،

[13]  صحيح مسلم بشرح النووي، كتاب الزهد، 18/129
[14]  Muhammad Mustafa Azami, Studes in Early Hadith Literature, Terj. Ali Mustafa Ya'qub, hal. 132
[15]  Musnad Imam Ahmad, v: hal 424,
[16] Shahih al-Bukhari, Hadits no. 1454.

[18] Musnad Imam Ahmad, v:36.
[19] Al Kifayah,hal 330-331.
[20] Tabaqat Ibn Saad, ii:hal: 123.
[21] Taqyyid al-ilm,hal 93
[22] Shahih Bukhari, al-Lugatah, 6, hadits 2434, 6880.
[23] Musnad Imam Ahmad, iv: hal 396
[24] Musnad Ibn Wahb. al Ilal, hal 120
[25] N. Abbot, Studies in Arabic Literary Papyri, ii: hal 238.
[26] al-Dzahabi, Tafsir wa al-Mufassirun, i:hal 115.
[27] Tarikh al-Ya’qubi, ii:114
[28] Musnad Imam Ahmad, iv:hal  226.
[29] Tarikh Wasit,hal 38. Tarikh al Fasawi, iii:hal 363 A. Taqyyid al-‘Ilm,hal 95-96.
[30]  Abu Khaitsamah, al-Ilm,hal 144.
[31] Shahih Muslim, al-Amarah, hal 10
[32] Tadzkirah al-Huffadh, hal 43
[33] Musnad Imam Ahmad, iv:hal  361.
[34] Al-Ila, i:hal 104.
[35] Musnad Imam Ahmad, iv:hal 141.
[36] Musnad Imam Ahmad, iv: hal 370 .
[37]  al-Mustadrak, i:hal 75.
[38]Musnad Imam Ahmad, v: hal 285.
[39] Al-Mizan, iv:hal 546 .
[40] Al-Amwal, hal 393,
[41] Tahdzib, iv: hal 236-237
[42] Al-Kamil, iii:hal 4
[43] Siyar â’lam al-Nubala, ii:hal 331.
[44]  Al-Ishabah. i:hal 157 .
[45] Sunan Ibnu Majah, al-diyat,hal 12 (hadits no. 2642)
[46] Musnad Imam Ahmad, iii:hal 453 .
[47] Shahih Muslim, alhajj,hal  369.
[48] Musnad Imam Ahmad, iv:hal  353-354 .
[49] Musnad Imam Ahmad, iv:hal 4.
[50] Ibn Sa’ad, ii:hal 123.
[51]  Al-Buukhari, Tarikh al-Kabir, i:hal 325.
[52] Tabrani, al-Mu’jam al-Kubra, iii:hal 176
[53] Al Ilal, i:hal 322 dan Jami, bayan al-Ilm, i:hal 66.
[54] Shahih Muslim, al-iman,. taqyyid al-ilm,hal  54
[55] Musnad Imam Ahmad, i:hal 79.
[56]  al-Amwal, 393. Bukhari, Tarikh al-Kabir, i:218I
[57] Ibn Tulun, I’lam al-Sailin, 48-52
[58] Musnad Imam Ahmad, vi:283 .
[59] Shahih Muslim, al-Talaq, 39


[60] Al-Ramahurmuzi, 56 A


             [61] Musnad Imam Ahmad, v:hal 228 .
[62]  Musnad Imam Ahmad, iv:hal  94.
[63] Shahih Bukhari, Adzan, hal 155.
[64] Musnad Imam Ahmad, vi:hal 333 .
[65] Musnad Imam Ahmad, iv:hal 277.
[66] Siyar â’lam al-Nubala, iv:259 .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar